Menjelajah dan Berpetualang



Keindahan Kolam Renang Bukit Kacapi

Di Tasikmlaya banyak sekali surga wisata yang tersembunyi. Lokasinya sangat ciamik karena diapit gunung dan bukit-bukit. Selain itu, udaranya yang sejuk menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan dan bisa menjadi alternatif liburan di Jawa Barat.


Sekarang ada tempat wisata baru di Tasikmalaya namanya Kolam Renang Bukit Kacapi, yaitu Sebuah Kolam Renang yang menyajikan pemandangan luar biasa. Ketika kita berenang kita bisa melihat secara langsung bukit-bukit dan perkebunan teh yang hijau. Apabila dilihat dalam peta, kolam renang yang berada di Kecamatan Cigalontang kabupaten Tasikmalaya adalah tempatnya. Dengan jarak sekitar 65 Kilometer dari pusat Kota Tasikmalaya dan sekitar 45 Kilometer dari Ibu Kota Kabupaten Tasikmalaya, Singaparna dan dengan ketinggian 950 meter diatas permukaan laut.  Untuk menuju ke Kolam Renang ini lumayan agak sulit karena memang tidak ada petunjuk jalan. Dari Jalan Raya sekitar 70 meter dari jembatan Perbatasan Kab.Garut dan Kab.Tasikmalaya Belok ke kanan dimana terdapat jembatan kecil dan Pangkalan Ojek. Setelah itu ambil kanan jalan menurun sampai ke jembatan nanti belok kanan kembali dan ikuti jalan sampai ke perkebunan teh.


Kolam Renang yang menghadap langsung ke Perkebunan teh ini sudah ada sejak tahun 2015. Namun keberadaannya memang tidak terlalu populer karena hanya masyarakat sekitar yang tau tempat ini, kolam ini dikelola oleh pribadi. Air yang ada di kolam ini adalah air alami yang mengalir dan dialirkan kembali jadi tidak memakai kaporit.
Hari Weekend Kolam renang ini selalu penuh dengan pengunjung. Walau kebanyakan adalah pengunjung dari daerah sekitar tapi belakangan ini sudah ada pengunjung yang datang di luar perkampungan dekat kolam. Selain kita bisa bermain air di kolam renang kita bisa sekaligus menikmati pemandangan kebun teh yang luas dan berbukit-bukit. Kalau saya tidak salah dengan perkebunan teh ini terbilang baru dan bernama Pekebunan teh Kurjati. Karena ketika saya akan ke kolam renang ini saya sempa bertanya dan menunjukan tempat bernama Kurjati, perkebunan teh baru. Akses jalannya pun lumayan agak parah karena beberapa bagian jalannya berbatu dengan tanjakan dan pudunan yang ekstreme.

Harga Tiket
Buat kamu yang ingin berkunjung kesini, cukup bayar tiket Rp. 5.000 saja perorang. Harga tersebut sudah merangkap untuk biaya parkir dan sewa ban.

Fasilitas
Kolam Renang Bukit Kacapi memiliki sejumlah fasilitas yang akan membuat kita betah berlama-lama, diantaranya :


1.      Gazebo untuk istirahat
2.      Ban dengan bebagai macam ukuran
3.      Toilet
4.      Ayunan kayu
5.      Area Perkebunan teh Kurjati
6.      Warung makan
7.      Area parkir

Menjelajah dan Berpetualang


Curug Panjang Megamendung


Megamendung, Kabupaten Bogor (26/03). Bogor merupakan salah satu kota yang menjadi destinasi wisata di Indonesia. Beragam potensi wisata ada di Bogor, baik di Kota Bogor maupun di Kabupaten Bogor. Keramahan masyarakatnya dan udara yang sejuk nampaknya menjadi daya tarik tersendiri. Tak heran, sangat mudah kita lihat para wisatawan baik wisatawan lokal maupun asing berlalu-lalang di sekitar Bogor. Objek wisata yang dimiliki pun beragam, mulai dari wisata alam hingga wisata sejarah. Tak hanya punya Kebun Raya Bogor yang tersohor, Bogor juga punya wisata alam yang menarik salah satunya Curug Panjang.

Curug Panjang merupakan salah satu obyek wisata alam di Kota Hujan. Jika dibandingkan dengan curug lainnya di Kota Bogor, nama Curug Panjang mungkin tak sesohor Curug Nangka atau Curug Cilember. Namun, tempat ini bisa menjadi alternatif di akhir pekan. Lokasinya yang tak begitu jauh, bisa ditempuh dengan sekali jalan.
Curug Panjang merupakan pilihan yang tepat untuk berwisata karena aksesnya yang relatif lebih mudah dijangkau jika dibandingkan dengan curug-curug yang lain. Berlokasi di Citamiang, Desa Megamendung, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi Curug Panjang kurang lebih 20 km dari Kota Bogor dan dapat ditempuh dengan berkendara selama kurang lebih 1,5 jam. Kendaraan yang dapat digunakan adalah sepeda motor dan mobil, tidak disarankan untuk menggunakan bus atau kendaraan besar lainnya karena jalan menuju ke Curug Panjang ini relatif sempit.



Aliran air terjun yang yang dingin di tengah bebatuan besar dan panjang dengan iringan suara burung dari kejauhan menjadi pemandangan indah di Curug Panjang.
Curug Panjang memiliki keunikan tersendiri, yaitu bentuknya yang memanjang bukan vertikal seperti curug pada umumnya. Hal inilah yang membuat curug ini disebut Curug Panjang. Jika dibandingkan dengan curug yang lain, Curug Panjang tidak terlalu tinggi karena ketinggiannya hanya kurang lebih 4 meter, sedangkan kedalamannya 7 meter. Sebelum dikelola oleh Perhutani, Curug Panjang ini dikelola oleh perusahaan swasta. Tidak hanya dapat menyegarkan mata dengan keindahan dari air terjunnya sendiri, pengunjung juga bisa camping dan trekking di Curug Panjang ini. 

Berada di kawasan yang luas, Curug Panjang dikelilingi oleh pohon-pohon dan batu-batu besar. Saat menuju ke curug ini kita akan disuguhi oleh pemandangan yang menarik.. pohon-pohon pinus, villa-villa, keseharian masyarakat Desa Citamiang dan tak lupa pemandangan Gunung Salak dan Gunung Gede dari kejauhan. Udara yang sejuk dan suasana yang sunyi akan mengantarkan kita kepada Curug Panjang ini. Pengunjung mungkin akan mengalami kebingungan dalam perjalanan karena kurangnya petunjuk arah

Harga Tiket :
Tak mahal untuk menikmati Curug Panjang. Hanya mengeluarkan kocek Rp 12.000 dan Rp 3.000 untuk kendaraan bermotor, pengunjung bisa menikmati dinginnya air Curug Panjang. Dari gerbang masuk, pengunjung harus kembali jalan kaki untuk ke dasar curug, kurang lebih perjalanan 300-400 meter.

Fasilitas :
Secara umum di Wana Wisata Curug Panjang ini ada dua wilayah, yakni wilayah bawah tempat air terjun berada dan wilayah atas yang merupakan camping ground. Fasilitas yang ada di Wana Wisata Curug Panjang sudah cukup memadai, yaitu: toilet, mushola, aula, pusat informasi, dan pos tiket. Jangan takut tidak kebagian toilet karena tersedia 12 toilet yang terletak di dua lokasi, 4 toilet berada di dekat air terjun dan sisanya di dekat mushola. 

Tapak Tilas Kampung Naga



Keunikan Kampung Naga

Jika Anda berkunjung ke Tasikmalaya, di sini ada kampung yang sangat terkenal di Jawa Barat karena kearifan lokalnya. Kampung ini disebut Kampung Naga. Kenapa disebut Kampung Naga? Sebenarnya tidak ada hubungannya dengan hewan mitos naga tetapi memang nama sebutan saja.


Kampung Naga adalah sebuah kampung adat yang terletak di desa Neglasari Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat.  Masyarakatnya masih memegang kuat adat istiadat yang diwariskan oleh leluhur mereka dimana mereka hidup dalam tatanan yang diliputi suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat.


Karena keunikannya kampung ini kerap dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun mancanagara, serta dijadikan sebagai tempat studi tentang kehidupan masyarakat pedesaan Sunda pada masa peralihan dari pengaruh Hindu menuju pengaruh Islam di Jawa Barat.
Warga kampung Naga sendiri menyebut sejarah kampungnya dengan istilah "Pareum Obor". Pareum jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yaitu mati, gelap. Dan obor itu sendiri berarti penerangan, cahaya, lampu. Jika diterjemahkan secara singkat yaitu, matinya penerangan. Hal ini berkaitan dengan sejarah Kampung Naga itu sendiri. Mereka tidak mengetahui asal-usul kampungnya.
Menurut masyarakat kampung naga, hal ini disebabkan oleh terbakarnya arsip/sejarah mereka pada saat kampung ini dibakar oleh Organisasi DI/TII Kartosoewiryo di masa lalu. Pada saat itu, DI/TII menginginkan terciptanya negara Islam di Indonesia. Kampung Naga yang saat itu lebih mendukung Soekarno dan kurang simpatik dengan niat organisasi tersebut. Oleh karena tidak mendapatkan simpati warga Kampung Naga maka DI/TII membumihanguskan perkampungan tersebut pada 1956.
Penamaan Naga sendiri cukup aneh, karena sebagaimana diketahui naga adalah ciri khas budaya Tiongkok.  Sedangkan kampung tersebut bisa dikatakan jauh dari pengaruh itu.  Tidak terdapat ornamen-ornamen atau pun gambaran tentang hewan naga di Kampung Naga.
Ada yang mengatakan, nama Naga berasal dari “Na Gawir”, yatu bahasa sunda yang artinya “berada jurang.”  Ini karena kampung Naga berada pada lereng lembah sungai Ciwulan.
Mengenai asal-usul terbentuknya kampung, konon berasal dari seorang tokoh bernama Sembah Dalem Eyang Singaparana. Beliau adalah murid dari Sunan Gunung Jati yang ditugaskan menyebarkan agama Islam ke barat.
Dalam perjalanannya, beliau singgah di desa Neglasari, saat ini menjadi bagian dari kecamatan Salawu Tasikmalaya.  Dari desa tersebut, Singaparana bersama murid-muridnya kemudian membuka tempat yang saat ini menjadi Kampung Naga. Makam Sembah Dalem Singaparana terletak di hutan di sebelah barat kampung dan dikeramatkan oleh warga. 

Bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus panggung, bahan rumah dari bambu dan kayu. Atap rumah harus dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang, lantai rumah harus terbuat dari bambu atau papan kayu. Rumah harus menghadap ke utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang kearah barat-timur. Ada sekitar 112 rumah di kampung naga, tetapi yang terisi 109 rumah, lainnya adalah mesjid, ruang serba guna, dan lumbung padi . Penduduk di sini rata-rata bermata pencaharian secara bertani dan berkebun. Desa ini adalah desa yang subur. Sungguh saya salut dengan pola hidup masyarakat Kampung Naga yang menjujung tinggi persaudaraan dan keadilan. Untuk menghidari rasa iri dengki rata-rata rumah di Kampong Naga memiliki 1 ruang tamu, 1 dapur, I kamar tidur dan WC yang berada di luar rumah. Mereka menolak listrik padahal ada loh, cuman sekitar 500 meter dari tempat tinggal mereka, saya melihat tiang listrik berdiri kokoh .
Ada 2 hutan yang tidak boleh di utak atik. Kita tidak boleh mengambil apapun dari sini, bahkan mematahkan sebatang bambu kecil juga di larang disini.

Penduduk Kampung Naga semuanya beragama Islam, sebagaimana masyarakat adat lainnya mereka juga sangat taat memegang adat-istiadat dan kepercayaan nenek moyangnya.
Walaupun mereka menyatakan memeluk agama Islam, mereka tetap menjaga warisan budaya leluhurnya. Menurut kepercayaan masyarakat Kampung Naga, dengan menjalankan adat-istiadat warisan nenek moyang berarti menghormati para leluhur atau karuhun.
Segala sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhun Kampung Naga, dan sesuatu yang tidak dilakukan karuhunnya dianggap sesuatu yang tabu. Apabila hal-hal tersebut dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga berarti melanggar adat, tidak menghormati karuhun, hal ini pasti akan menimbulkan malapetaka.

Diberdayakan oleh Blogger.

Menjelajah dan Berpetualang

Keindahan Kolam Renang Bukit Kacapi Di Tasikmlaya banyak sekali surga wisata yang tersembunyi. Lokasinya sangat ciamik karena diapi...

Cari Blog Ini